Kepentingan Geo-Politik dan Ekonomi Jakarta melalui NKRI, Menciderai Ikrar Bersama Bangsa Melayu.
By: Kristian Griapon
Kepentingan geo-politik dan ekonomi Jakarta guna menunjang kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diadopsi oleh Sukarno Cs dari konsep kuno kerajaan hindu, Nagara Kartagama dengan simbol Bhineka Tunggal Ika, dan diberlakukan pada tanggal 17 Agustus 1950, setelah mengkudeta Negara Republik Indonesia Serikat yang sedang dijalankan oleh Kabinet Perdana Menteri Mohammad Hatta, telah menciderai ikrar bersama bangsa melayau utuk bersatu dalam negara federasi Indonesia etnogafi budaya dan wilayah New guinea Bagian Barat dengan modus, "Distorsi Sejarah Majapahit, dalam versi Nagara karta Gama"
Penduduk Asli Papua yang secara etnografi budaya dan wilayah terpisah dari etnografi budaya dan kewilayahan Melayu , dicaplok ke dalam . Negara Kesatuan Republik Indonesia menggunakan akal-akalan politik yang tidak rasional, serta sangat bertentangan dengan prinsip membentuk kedaulatan sebuah negara.
Memutar balik fakta etnografi budaya Papua, dan wilayah geografi New Guinea bagia Barat telah mengaburkan identitas penduduk asli Papua yang adalah satu bangsa diatas wilayah geografi New Guinea Bagian Barat.
Fakta yang terjadi, contoh kasus sederhana untuk memperlihatkan memutar balik fakta etnografi budaya Papua sebuah kasus yang tidak bisa dipungkiri, atau disangkal, adalah perbuatan melabelkan identitas palsu nomenklatur New Guinea Barat menjadi Irian Barat, dan kedudukan penduduk asli Papua yang adalah satu bangsa, dikerdilkan dengan konotasi suku Irian, sangat ironis perilaku orang-orang yang tidak bermoral.
Berbagai bentuk rekayasa etnografi Papua yang kini telah mengaburkan identitas penduduk asli Papua diatas Wilayah Geografi New Guinea Bagian Barat, dipolitisasi oleh para tokoh nasionalis Indonesia Sukarno,Cs, dimulai dari BPUPKI 1945 sampai terbawa dalam perdebatan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 di Den Haag Belanda, yang pada akhirnya memutuskan Negara Federasi Republik Indonesia Serikat (RIS). pada 27 Desember 1949, yang membawahi wilayah-wilayah di nusantara, dari Sabang (Ache)-Ambon (maluku).