Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Operasi Trikora | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Sengketa Irian Barat dan Perang Dingin di Asia | |||||||||
Prangko Indonesia menunjukkan KRI Matjan tutul, salah satu kapal Indonesia dalam Operasi Trikora | |||||||||
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
|
| |||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
|
| ||||||||
| Kekuatan | |||||||||
|
13.000 tentara 7.000 pasukan terjun payung 4.500 marinir 3.000 tentara |
10.000 tentara 1.400 marinir 1.000 relawan Papua | ||||||||
| Korban | |||||||||
|
214 tewas[2] 1 kapal motor torpedo tenggelam 2 kapal motor torpedo rusak | 9 tewas[3] | ||||||||
| ||
|---|---|---|
|
Prakemerdekaan Kebijakan dalam negeri Kebijakan luar negeri Media dan warisan Galeri: Gambar, Suara, Video |
||
Operasi Trikora (singkatan dari Tri Komando Rakyat) adalah operasi militer gabungan Uni Soviet-Indonesia yang bertujuan merebut wilayah jajahan Belanda di Nugini Belanda pada tahun 1961 dan 1962. Setelah negosiasi, Belanda menandatangani Perjanjian New York dengan Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1962, menyerahkan kendali atas Irian Barat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dimulainya operasi
Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno berpidato di Yogyakarta mengenai pembebasan Papua yang bertemakan "Tiga Prinsip Trikora". Ketiga prinsip Trikora tersebut adalah:
- Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial
- Kibarkanlah sang merah putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia
- Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa[4][5]
- Prinsip Trikora yang terpasang di Lapangan Banteng
Latar belakang
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun pemerintah Belanda menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Malino perwakilan Irian Barat berupa Frans Kaisiepo menyatakan dukungannya agar wilayahnya merdeka bersama wilayah Indonesia lainnya dan mempromosikan nama Irian yang berasal dari kata biak[6] dan juga akronim Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.[7] Sedangkan sejak Konferensi Denpasar, perwakilan Irian Barat sudah tidak disertakan karena direncanakan tidak lagi menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur bagian dari Republik Indonesia Serikat atas desakan dari Partai Katolik Belanda, walau Van Mook mengklaim didasari masalah keuangan dan perbedaan suku.[8][9][10] Pengucilan tokoh-tokoh Papua dari konferensi ini diprotes oleh Nicolaas Jouwe, Corinus Krey, dan Marthen Indey dalam telegram kepada Van Mook tertanggal 12 Desember 1946, walau tidak digubris sehingga melahirkan pemberontakan PIDRIS (Partai Irian Dalam Republik Indonesia Serikat).[11][12]
Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Irian Barat, tetapi setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun. Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Irian Barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB.[butuh rujukan] Sejak tahun 1950 hingga 1953, terjadi perundingan antara Indonesia dan Belanda tentang status wilayah tersebut. Namun pada akhir tahun 1950, ketika struktur federasi RIS berubah menjadi kesatuan, menyebabkan Belanda tidak lagi memiliki andil dalam pemerintahan Indonesia. Lalu pemerintah Belanda menggunakan hal ini sebagai dasar untuk tidak menjalankan perjanjian tentang Irian Barat seperti dalam KMB. Pada tanggal 15 Februari 1952, parlemen Belanda memasukan wilayah Papua menjadi wilayahnya secara resmi dan tidak mau melanjutkan perundingan dengan Indonesia.[13][14] Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an.[butuh rujukan] Setelah Indonesia beberapa kali melakukan infiltrasi ke wilayah Irian Barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Irian Barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957.[butuh rujukan] Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibu kota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.
Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, tetapi tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.[butuh rujukan]
Persiapan
Militer
Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, tetapi ditolak. Namun akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jenderal A. H. Nasution pergi ke Moskow, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dolar Amerika Serikat dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.[15]
Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Irian Barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, D.C. menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet, dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.[15]
Landasan Udara
Untuk mencapai keunggulan udara, persiapan-persiapan pertama yang dilakukan AURI adalah memperbaiki pangkalan-pangkalan udara yang rusak akibat perang, yang akan dipergunakan untuk operasi - operasi infiltrasi maupun menghadapi operasi terbuka di daratan Irian Barat. Pangkalan Udara dan Landing Strip yang banyak terdapat di sepanjang perbatasan Maluku dan Irian Barat, adalah peninggalan Jepang. Pangkalan Udara dan Landing Strip tersebut terakhir dipergunakan pada tahun 1945, dan setelah itu sudah tidak dipakai lagi. Keadaan Pangkalan Udara dan Landing Strip tersebut tidak terawat dan banyak yang rusak serta ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon. Kesiapan operasional pangkalan udara dan landing strip itu pada akhir tahun 1961 adalah sebagai berikut:
- PAU Morotai
- PAU Amahai
- PAU Letfuan
- PAU Kendari
- PAU Kupang
- PAU Gorontalo
- PAU Jailolo
- PAU Pattimura
- PAU Liang
- PAU Lahat
- PAU Namlea
- PAU Langgur
- PAU Dokabarat
- PAU Selaru
Diplomasi
Indonesia mendekati negara-negara seperti India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Prancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda. Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Irian Barat. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu 2 tahun.
Ekonomi
Pada tanggal 27 Desember 1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU No. 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi seperti:
- Perusahaan Perkebunan
- Nederlandsche Handel-Maatschappij
- Perusahaan Listrik
- Perusahaan Perminyakan
- Rumah Sakit (CBZ) menjadi RSUD
Dan kebijakan-kebijakan lain seperti:
- Memindahkan pasar pelelangan tembakau Indonesia ke Bremen (Jerman Barat)
- Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia
- Melarang KLM (maskapai penerbangan Belanda) melintas di wilayah Indonesia
- Melarang pemutaran film-film berbahasa Belanda
Konfrontasi Total
Sesuai dengan perkembangan situasi Trikora diperjelas dengan Instruksi Panglima Besar Komodor Tertinggi Pembebasan Irian Barat No.1 kepada Panglima Mandala yang isinya sebagai berikut:
- Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.
- Mengembangkan situasi di Provinsi Irian Barat sesuai dengan perjuangan di bidang diplomasi dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di Wilayah Irian Barat dapat secara de facto diciptakan daerah-daerah bebas atau ada unsur kekuasaan/ pemerintah daerah Republik Indonesia.
Strategi yang disusun oleh Panglima Mandala guna melaksanakan instruksi tersebut.
- Tahap Infiltrasi (penyusupan) (sampai akhir 1962), yaitu dengan memasukkan 10 kompi di sekitar sasaran-sasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto yang kuat sehingga sulit dihancurkan oleh musuh dan mengembangkan pengusaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Barat.
- Tahap Eksploitasi (awal 1963), yaitu mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua pos-pos pertahanan musuh yang penting.
- Tahap Konsolidasi (awal 1964),yaitu dengan menunjukkan kekuasaan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia secara mutlak di seluruh Irian Barat.
Pelaksanaannya Indonesia menjalankan tahap infiltasi, selanjutnya melaksanakan operasi Jayawijaya, tetapi sebelum terlaksana pada 18 Agustus 1962 ada sebuah perintah dari presiden untuk menghentikan tembak-menembak.
Konflik bersenjata

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Irian Barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Irian Barat. Angkatan Laut Kerajaan Belanda menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Irian Barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Irian Barat terdiri dari:
- Angkatan Laut Kerajaan Belanda
- Korps Mariniers
- Dinas Dirgantara Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Marine Luchtvaartdienst/MLD)[16]
Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuan.[16]
Operasi-operasi Indonesia
Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Irian Barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, tetapi misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.
Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Irian Barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.
Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.
Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Irian Barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Irian Barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Irian Barat melakukan sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.
Pada tanggal 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah operasi menjadi gagal.[17]
Pertempuran laut Aru
Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02' BT. Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, di mana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut.[17]
Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, tetapi tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, tetapi kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.[17] Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".
Operasi penerjunan penerbang Indonesia
Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Irian Barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, tetapi operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. Penerjunan itu pada awalnya dilaksanakan dengan menggunakan pesawat angkut ringan C-47 Dakota yang kapasitas 18 penerjun, tetapi karena keterbatasan kemampuannya, penerjunan itu dapat dicegat oleh pesawat pemburu Neptune Belanda.[15]
Pada tanggal 19 Mei 1962, sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan. Saat persiapan keberangkatan, komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh, selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan, kode pengenal teman, dan lokasi titik kumpul, lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. Pada pukul 03:30 WIT, pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T.Z. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan.
Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit, proses pendaratan 81 penerjun payung selesai dan pesawat Hercules segera meninggalkan daerah Teminabuan. Keempat mesin Allison T56A-15 C-130B Hercules terbang menanjak untuk mencapai ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat Neptune milik Belanda.[15]
TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[18] Lebih dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.
Akhir dari konflik
Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konflik ini, Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua, juga mengubah pendiriannya, dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.[19][20]
Persetujuan New York
Pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:
- Belanda akan menyerahkan pemerintahan Irian Barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
- Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
- Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
- UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
- Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan
bagi penduduk Irian Barat untuk mengambil keputusan secara bebas
melalui
- musyawarah dengan perwakilan penduduk Irian Barat
- penetapan tanggal penentuan pendapat
- perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk
- tetap bergabung dengan Indonesia; atau
- memisahkan diri dari Indonesia
- hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
- Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.
Pada tanggal 1 Mei 1963, UNTEA menyerahkan pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia. Ibu kota Hollandia dinamai Kota Baru, dan pada 5 September 1963, Irian Barat dinyatakan sebagai "daerah karantina". Pemerintah Indonesia membubarkan Dewan Papua dan melarang bendera Papua dan lagu kebangsaan Papua. Keputusan ini ditentang oleh banyak pihak di Papua, dan melahirkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1965. Untuk meredam gerakan ini, dilaporkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan berbagai tindakan pembunuhan, penahanan, penyiksaan, dan pengeboman udara. Menurut Amnesty International, lebih dari 100.000 orang Papua telah tewas dalam kekerasan ini. OPM sendiri juga memiliki tentara dan telah melakukan berbagai tindakan kekerasan.
Penentuan Pendapat Rakyat
Pada tahun 1969, diselenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang diatur oleh Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Menurut anggota OPM Moses Werror, beberapa minggu sebelum Pepera, angkatan bersenjata Indonesia menangkap para pemimpin rakyat Papua dan mencoba membujuk mereka dengan cara sogokan dan ancaman untuk memilih penggabungan dengan Indonesia.[21][22]
Pepera ini disaksikan oleh dua utusan PBB, tetapi mereka meninggalkan Papua setelah 200 suara (dari 1054) untuk integrasi.[23] Hasil PEPERA adalah Papua bergabung dengan Indonesia, tetapi keputusan ini dicurigai oleh Organisasi Papua Merdeka dan berbagai pengamat independen lainnya. Walaupun demikian, Amerika Serikat, yang tidak ingin Indonesia bergabung dengan pihak komunis Uni Soviet, mendukung hasil ini, dan Irian Barat menjadi provinsi ke-26 Indonesia, dengan nama Irian Jaya.
Setelah penggabungan
Setelah Irian Barat digabungkan dengan Indonesia sebagai Irian Jaya, Indonesia mengambil posisi sebagai berikut:
- Irian Barat telah menjadi daerah Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945 namun masih dipegang oleh Belanda
- Belanda berjanji menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar
- penggabungan Irian Barat dengan Indonesia adalah tindakan merebut kembali daerah Indonesia yang dikuasai Belanda
- penggabungan Irian Barat dengan Indonesia adalah kehendak rakyat Papua.
Hal ini diajarkan di sekolah dan ditulis dalam buku teks sejarah nasional.[15][16]
Setelah Jenderal Soeharto menjadi Presiden Indonesia, Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi izin tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972), dan kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai tahun 2041. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988, tambang ini menjadi tambang emas terbesar di dunia. Penduduk setempat dengan bantuan Organisasi Papua Merdeka memprotes berbagai tindakan pencemaran lingkungan hidup dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Freeport dan pemerintah Indonesia dengan berbagai cara, termasuk peledakan pipa gas dan penculikan beberapa pegawai Freeport dari Eropa dan Indonesia pada tahun 1996. Dalam kejadian ini, 2 tawanan dibunuh dan sisanya dibebaskan.
Pada tahun 1980-an, Indonesia memulai gerakan transmigrasi, di mana puluhan ribu orang dari pulau Jawa dan Sumatra dipindahkan ke provinsi Irian Jaya dalam jangka waktu 10 tahun. Penentang program ini mencurigai usaha Indonesia untuk mendominasi provinsi Irian Jaya dengan cara memasukkan pengaruh pemerintah pusat.[24][25][26]
Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid memberi otonomi khusus kepada provinsi Papua untuk meredam usaha separatis. Provinsi ini kemudian dibagi dua menjadi provinsi: Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) melalui instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001.
Warisan
Berbagai monumen dan nama tempat di Indonesia diambil berdasarkan pidato dan Operasi Trikora. Beberapa monumen telah dibangun, di antaranya dua monumen di Jakarta (Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta Pusat dan Monumen Trikora di dalam Markas Besar TNI di Jakarta Timur), Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat dan Museum Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat di Makassar, Sulawesi Selatan, Monumen Jayawijaya di Tinangkung, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah,[27] serta monumen-monumen bernama "Monumen Trikora" atau "Tugu Trikora" di Bitung, Sulawesi Utara,[28] Kabupaten Morotai, Maluku Utara,[29] dan Ambon, Maluku.[30]
Penerjun payung yang terlibat dalam Operasi Trikora juga diabadikan dalam sejumlah monumen, seperti patung di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya,[31] dan Kabupaten Fakfak, Papua Barat,[32] serta patung L.B. Moerdani sebagai penerjun payung di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.[33]
Sebuah jalan pendek di utara Alun-Alun Utara Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta sebelumnya sempat bernama Jalan Trikora sebelum diganti menjadi Jalan Pangurakan.[34] Jalan-jalan lain di berbagai kota di Indonesia, khususnya di wilayah Papua, juga dinamai Jalan Trikora. Puncak Trikora di pegunungan tengah Papua juga dinamai dari operasi ini.
Sebuah markas Komando di TNI Angkatan Darat, yakni Kodam XXIV/Mandala Trikora yang berkedudukan di Merauke, Papua Selatan yang terdiri dari 3 kodim dan 1 yonif.
Lihat juga
Referensi
- "Operation Trikora – Indonesia's Takeover of West New Guinea". Pathfinder: Air Power Development Centre Bulletin (150): 1–2. February 2011. Diakses tanggal 27 February 2023.
- 25 tahun Trikora. Yayasan Badan Kontak Keluarga Besar Perintis Irian Barat. 1988. hlm. 192. Diakses tanggal 1 November 2021 – via Google Play Books.
- "Nederland stuurt militairen naar Nieuw-Guinea". IsGeschiedenis. 27 April 2016.
- Cuplikan Pidato Presiden Sukarno : TRIKORA di Yogyakarta tanggal 19 desember 1961., diakses tanggal 2023-08-26
- Media, Kompas Cyber (2021-08-22). "Operasi Trikora, Upaya Indonesia Merebut Irian Barat Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-08-26.
- Patiara, John; Renwarin, Herman; Soedharto, Bondan; Palangan, M. (1983). "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialis dan Kolonialisme di Daerah Irian Jaya" (PDF). Kemdikbud. hlm. 72–73. Diakses tanggal 2021-11-03.
- Ayuwuragil, Kustin (2018-08-17). "Frans Kaisiepo dan 'Ikut Republik Indonesia Anti Nederland'". nasional. Diakses tanggal 2023-05-01.
- Jenkins, Graham (23 December 1946). "Birth of New State of East Indonesia". The Argus (Melbourne). No. 31, 299. Victoria, Australia. hlm. 5. Diakses tanggal 15 July 2018 – via National Library of Australia.
- Agung 1996, hlm. 95.
- Jenkins, Graham (21 December 1946). "Netherlands to Keep Dutch N G". The Argus (Melbourne). No. 31, 298. Victoria, Australia. hlm. 5. Diakses tanggal 15 July 2018 – via National Library of Australia.
- Gunawan, Restu; Leirissa, R.Z.; Haryono, P. Suryo; Lumintang, Onnie; Nurhajirini, Dwi Ratna (1997). Biografi Pahlawan Nasional: Marthin Indey dan Silas Papare. Jakarta: Departmen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. hlm. 43. Diakses tanggal 11 October 2022.
- Gunawan, Restu; Leirissa, R.Z.; Haryono, P. Suryo; Lumintang, Onnie; Nurhajirini, Dwi Ratna (1997). Biografi Pahlawan Nasional: Marthin Indey dan Silas Papare. Jakarta: Departmen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. hlm. 42–43. Diakses tanggal 24 October 2020.
- Audrey and George Kahin, Subversion as Foreign Policy, p.45
- Soedjati Djiwandono, Konfrontasi Revisited, 1-2
- Sibero, Tarigan (3 Mei 2006). "Kisah Heroik Merebut Irian Barat (1)". TNI.
- "Pembebasan Irian Barat dan Pasukan Belanda di Irian Barat". Pusjarah TNI. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 2007-09-05.
- Intisari. Mengenang Tragedi di Laut Aru
- "Batalyon Armed–9/Pasopati". Patriot. 09-03-2007.
- United States Department of State. "95/03/06 Foreign Relations, 1961-63, Vol XXIII, Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2015-08-13. Diakses tanggal 2007-09-20. ; ;
- John F. Kennedy. "Surat John F. Kennedy" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2006-09-26. Diakses tanggal 2007-09-20. ; ;
- The National Security Archive. "Indonesia's 1969 Takeover of West Papua Not by "Free Choice"" (dalam bahasa Inggris). ;
- Saltford, John Francis. "UNTEA and UNRWI: United Nations Involvement in West New Guinea During the 1960's" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2006-07-17. Diakses tanggal 2007-09-20.
Indonesia's final preparation for the assembly meetings have been described by several people, including assembly members. They allege that members were isolated beforehand in camps for several weeks. Forbidden to contact friends and relatives and often under armed guard, they were then subjected to a series of threats and bribes by the authorities to do exactly as they were told.
; ; - The Indonesia Human Rights Campaign. "Act of Free Choice: The Papuans of Western New Guinea and the limitations of the right to self determination" (dalam bahasa Inggris). ;
- Andrew Kilvert. "Golden Promises: Indonesian migrants find themselves pawns in a war for control of West Papua" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2006-12-15. Diakses tanggal 2007-09-20. ; ;
- M.Adriana Sri Adhiati & Armin Bobsien (ed.). "Indonesia's Transmigration Programme - An Update" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-02. Diakses tanggal 2007-09-20. ; ; ;
- The World Bank. "Transmigration in Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-20. Diakses tanggal 2007-09-20. ; ;
- "Sejarah Dibalik Berdirinya Monumen Trikora Jayawijaya Di Salakan". Paulipu. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- Prasetyo (2017). "Monumen Trikora Kota Bitung: Saksi Sejarah Yang Terpinggirkan". Duasudara. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- Bachtiar, Basri (2017). "Mengenal Monumen Trikora di Morotai". detikcom. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- "Tugu Trikora di Pusaran Korupsi". Siwalima. 2020. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- Paul (2019). "54 Tahun Tugu Trikora Telantar". Kumparan. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- "Tugu TRIKORA Fakfak". Nan Emma. 2016. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- "Moerdani Monument in Merauke Regency, Papua Province". indonesia-tourism.com. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
- Redaksi Solopos.com (2013). "Desember, Tiga Ruas Jalan di Jogja akan Ganti Nama". Solopos.com. Diakses tanggal 12 Oktober 2021.
Catatan
Pranala luar
- Perang yang melibatkan Indonesia
- Perang yang melibatkan Belanda
- Perang dalam tahun 1961
- Perang dalam tahun 1962
- Konflik dalam tahun 1961
- Konflik dalam tahun 1962
- Indonesia dalam tahun 1961
- Indonesia dalam tahun 1962
- Operasi militer yang melibatkan Indonesia
- Invasi oleh Indonesia
Komando Mandala Pembebasan Irian Barat adalah sebuah komando yang dibentuk oleh Soekarno pada tanggal 2 Januari 1962 setelah Operasi Trikora dikomandokan di Yogyakarta, melalui Keputusan Presiden No. I/1962. Komando Mandala dibentuk untuk membebaskan Irian Barat, bersifat gabungan yang mempunyai wilayah meliputi:
- Kodam XIII/Merdeka,
- Kodam XIV/Hasanuddin,
- Kodam XV/Pattimura,
- Kodam XVI/Udayana,
- KORUD II dan KORUD IV.
Komando ini berpusat di Makassar, Sulawesi Selatan-Tenggara.
Berkat Komando Mandala, Ellsworth Bunker, perwakilan Amerika Serikat mengajukan usul terhadap permasalahan Belanda - Indonesia yang akhirnya dapat di selesaikan dengan Irian Barat kembali ke tangan Indonesia.
Latar belakang
Ketika tentara Jepang mengalami kekalahan di Asia, dari Sekutu, maka di Indonesia mulai masuk AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies) bersama Belanda melalui NICA yang bertujuan mengambil alih pendudukan Jepang di Indonesia. Dan sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia tanpa syarat kecuali Irian Barat. Indonesia ingin agar semua daerah bekas penjajahan Hindia Belanda menjadi wilayahnya, tetapi Belanda menolaknya. Dan sesuai keputusan dari Konferensi Meja Bundar, persoalan Irian Barat akan diselesaikan setahun setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun pada 19 Februari 1952, Belanda secara diam-diam melanggar hasil keputusan dari KMB dengan memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam konstitusinya.[1]
Setelah Indonesia mencoba beberapa kali melalui usaha diplomasi melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa mengalami kegagalan, maka dimulai usaha melalui operasi militer dengan diinstruksikannya Trikora oleh presiden Soekarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden Nomor I/1962 tentang perintah pembentukan Komando Mandala (KOLA) untuk membebaskan Irian Barat, di mana komando ini bersifat gabungan, dan bertugas sebagai berikut:[1]
- Melaksanakan Trikora dengan melakukan operasi militer untuk merebut Irian Barat yang diduduki Belanda.
- Memimpin dan mempergunakan pasukan bersenjata maupun segala macam barisan perlawanan rakyat dan lain-lain sebagai kekuatan Nasional yang berada di Irian Barat.[2]
Tanggal 11 Januari 1962, Presiden Soekarno menunjuk Brigjen TNI Soeharto (sebelumnya beliau menjabat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat dan Komandan Pasukan Tjadangan Umum Angkatan Darat),[3] sebagai Panglima Komando Mandala, dengan pelantikannya dilaksanakan pada 13 Januari 1962, di mana pangkatnya dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal. Sedangkan untuk pelantikan kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal Soeharto dilaksanakan pada 23 Januari 1962 bertempat di Istana Bogor, dilantik oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Gatot Soebroto. Kedudukannya berada langsung di bawah Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (Pangbes KOTI/Pemirbar) yang juga dijabat oleh Presiden Soekarno. Dalam posisinya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI)/Pangbes KOTI/Permirbar, beliau mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1962 dengan isi sebagai berikut:
- Merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indonesia.
- Mengembangkan situasi militer di wilayah Irian Barat sesuai dengan taraf perjuangan di bidang diplomasi, agar dalam waktu sesingkat-singkatnya, di wilayah Irian Barat secara de facto dapat diciptakan daerah-daerah bebas atau didudukan unsur-unsur kekuasaan Pemerintah Daerah Republik Indonesia.[1]
Operasi Militer ini direncanakan dalam tiga tahap, di mana tahap pertama adalah tahap Inflitrasi (sampai akhir 1962), yaitu tahapan pendaratan pasukan dari udara dan laut dengan tujuan untuk penguasaan wilayah dan membawa serta rakyat Irian Barat untuk membebaskan wilayahnya. Tahap kedua, adalah tahap Eksploitasi (mulai awal 1963) dengan mengadakan serangan terbuka kepada pusat militer Belanda dan semua pos militer pentingnya. Dan tahap ketiga adalah tahap Konsolidasi (awal 1964), yaitu menegakkan kekuasaan Republik Indonesia secara mutlak di seluruh wilayah Irian Barat.[4]
Struktur
Saat dibentuknya KOLA, negara dalam keadaan sulit dan untuk melaksanakan operasi, kesiapan pasukannya belum maksimal, sehingga Panglima KOLA meminta wewenang untuk mempersiapkan operasi gabungan dan membentuk kawasan perang dengan wilayah Irian Barat dan Indonesia Bagian Timur, sehingga KOLA disusun dalam dua bagian, meliputi:
- Staf Umum ; Bertindak dalam bidang koordinasi Operasional
- Staf Khusus; Bertindak dalam bidang koordinasi
Dalam hal ini, pemegang kendali operasi Komando Pasukan Gabungan Mandala dipegang oleh Panglima KOLA.
Komponen utama dari KOLA adalah:[5]
- Angkatan Darat Mandala (ADLA)
- Angkatan Laut Mandala (ALLA)
- Angkatan Udara Mandala (AULA)
- Komando Pertahanan Udara Gabungan Mandala (Kohanudgabla)
- Dalam Komando Pasukan Gabungan Mandala, setiap komponen dipimpin oleh seorang Panglima Komponen Utama. Secara operasional berada di bawah Panglima Mandala, tetapi secara admisnitratif langsung di bawah panglima angkatan masing-masing. Sedangkan Angkatan Kepolisian, saat itu belum termasuk angkatan bersenjata.
Komando ini memiliki tiga tingkat yang mempunyai rantai komando sebagai berikut:[1]
- Komando Operasi Tertinggi (KOTI), yang bertugas untuk menetapkan pokok-pokok strategi militer.
- Komando Mandala (KOLA), yang bertugas untuk membuat dan melaksanakan rencana kampanye.
- Komponen Angkatan, yang bertugas untuk menyusun dan mengeluarkan konsep operasi berdasarkan strategi militer KOLA.
Secara keseluruhan organisasi untuk pembebasan Irian Barat berupa:[1]
- Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (KOTI Pemirbar) dengan susunan sebagai berikut:
- Panglima Besar KOTI Pemirbar: Presiden Sukarno
- Wakil Panglima Besar: Jenderal A.H. Nasution
- Kepala Staf: Mayjen TNI Ahmad Yani
- Komando Mandala:
- Panglima Mandala: Mayjen TNI Soeharto
- Wakil Panglima 1: Kolonel Laut R. Soebono[6]
- Wakil Panglima 2: Komodor Udara Leo Wattimena[7]
- Kepala Staf Umum: Kolonel Achmad Tahir[7]
- Kepala Sekretariat: Mayor CKHP. Nasution SH.
Komando ini terdiri atas dua staf, meliputi:[1]
- Staf Umum dengan susunan sebagai berikut:[5]
- Gabungan Staf 1 (G - 1), yaitu staf yang menangani kegiatan intelijen yang dipimpin oleh Kolonel Soedarmono (AU), Perwira I: Letnan Kolonel Infanteri R. Soetojo (AD) dan Perwira II: Mayor Laut Jasmani (AL).
- Gabungan Staf 2 (G - 2), yaitu Staf Operasi yang dipimpin oleh Kolonel Infanteri Amirmachmud (AD), Perwira I: Letnan Kolonel Laut Nizam Zachman (AL) dan Perwira II: Letkol Udara Soetopo (AU).
- Gabungan Staf 3 (G - 3), yaitu menangani kepegawaian dan administrasi personal, yang dipimpin oleh Kolone Udara Sugoro (AU), Perwira I: Letkol Pandu Suyoso (AD) dan Perwira II: Letkol Laut Marwadji (AL), yang juga sebagai PA-IG-4 (Perwira I G - 4).
- Gabungan Staf 4 (G - 4), yaitu staf yang menangani bidang logistik, yang dipimpin oleh Kolonel Inf. Sunggoro (AD), Perwira I: Letkol Laut Marwadji (AL) yang juga sebagai PA-IIG-3 (Perwira II G - 3) dan Perwira II: Letkol Udara Andoko (AU).
- Gabungan Staf 5 (G - 5), Gabungan Staf Teritorial dan perlawanan rakyat, yang dipimpin oleh Kolonel Inf. Moenadi (AD), Perwira I: Mayor KKO Sri Hartono (AL) dan Perwira II: AKBP Drs. S. Geonopranoto (POL).
- Gabungan Staf 6 (G - 6), yaitu staf yang menangani perhubungan (komunikasi), yang dipimpin oleh Letkol L Sotjokusumonegoro (AL).
- Staf Khusus. Staf Khusus Gabungan yang terdiri dari Inspektur Jenderal, Ajudan Jenderal, Perwira Kesehatan, Perwira Hukum, Komando Kompi Markas, Perwira Polisi Militer, Perwira Penerangan dan Pendidikan (ke dalam), Perwira Penerangan Rakyat (ke luar), Perwira Keuangan, Perwira Angkutan, Perwira Rohani dan Perwira Teknik.[5]
Markas Komando ini awalnya menempati markas Korps Caduad, Jakarta Pusat, dan baru pada tanggal 12 Maret 1962 dipindahkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, sedangkan Pos Komando Mandala Depan (Poskopan), bertempat di Ambon.[8]
Angkatan Udara Mandala (AULA)
AULA merupakan komponen utama KOLA di mana secara operasional ia di bawah Panglima Mandala (PangLa) sedangkan secara administrasi berada di bawah Menteri/Panglima Angkatan Udara (Men/Pangau) di bawah pimpinan Komodor Udara Leo Wattimena yang juga merangkap sebagai Wakil Panglima II KOLA.[9] AULA bermarkas di Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) dibantu oleh Komando Udara (Korud) III dan Korud IV/Maluku, yang berfungsi sebagai staf operasi untuk menyiapkan pangkalan-pangkalan yang diperlukan untuk operasi. Sedangkan Korud III/Makassar berfungsi sebagai Staf Logistik sebagai tempat penimbunan.
Ada tiga badan yang menangani operasi udara Mandala;
- Deputi Menteri KSAU Urusan Operasi, Komodor Udara Sri Mulyono Herlambang di tingkat MBAU, menyiapkan dana yang diperlukan.
- Kolonel Pnb Roesmin Noerjadin dari Koops sebagai penyedia peralatan.
- Kolonel Pnb Leo Wattimena (Pang AULA) sebagai perencana dan pelaksana.
Gubernur Militer
KOLA bertugas melaksanakan Operasi militer pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda, sedangkan untuk pemerintahannya, KOTI (Komando Operasi Tertinggi) membentuk Pemerintahan Militer dengan jabatan tertingginya adalah Gubernur Militer. Selain itu juga diterbitkan Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Nomor 7 Tahun 1962 tanggal 25 Juni 1962, tentang Perbantuan Komponen Sipil Pada Gubernur Militer Mandala oleh Presiden Soekarno.
Susunan staf Gubernur Militer Mandala adalah :
- Gubernur Militer: Mayor Jenderal Soeharto (Pangla)
- Kepala Staf: Kolonel Inf. Moenadi (AD) - (G - 5 Mandala)
- Bagian Keamanan: Letkol CPM Hernowo Asmanu
- Kepala Finek: Sukasah
- Kepala Sekretariat: Mayor CKH J.H. Sinaga, S.H.
Gubernur Kepala Daerah dan Penguasa Perang Daerah (Peperda) serta Kepolisian di bawah koordinasi Gubernur Militer Mandala. Area wilayahnya meliputi provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Maluku/Irian Barat.
Tugasnya adalah:
- Mempersiapkan seluruh daerah provinsi untuk mendukung operasi-operasi militer yang akan dilaksanakan oleh Panglima Mandala, dalam hal ini mempersiapkan logistik teritorial.
- Mobilisasi kekuatan rakyat guna mendukung operasi militer.
Dalam hal ini, Kepolisian Irian Barat di bawah pimpinan AKP Sabar Kumbino juga disub-ordinasikan kepada Gubernur Militer Mandala. Ia berkedudukan di Soasiu berkekuatan satu Resimen Tim Pertempuran (RTP) yang dipimpin AKP Sutrasno.[1]
Lihat juga
Referensi
- Saragih 2019, hlm. 45 - 51.
- ABRI, Pusjarah (1995). Trikora Pembebasan Irian Barat. Jakarta: Pusjarah ABRI. hlm. 92.
- Administrator (2013-10-14). "Komando Seribu Mata-mata". Tempo.co. Diakses tanggal 2019-11-16.
- Saragih 2019, hlm. 3-5.
- Ditwatpersau, Subdisjarah (1996). Perjuangan AURI Dalam Trikora. Jakarta: Ditwatpersau. hlm. 17.
- "Laksamana TNI R. SOEBONO". www.tnial.mil.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-11-16. Diakses tanggal 2019-11-16.
- Dwipayana, G.; K.H., Ramadhan (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada. ISBN 9798085019.
- Elson, Robert Edward (2001). Suharto : a political biography. Cambridge, UK: Cambridge University Press (dipublikasikan 13 November). ISBN 0521773261.
- Saragih 2019, hlm. 51 - 68.
Daftar Pustaka
Saragih, Maylina (2019). Heroisme PGT Dalam Operasi Serigala. Subdisjarah Dispenau.