Kesepakatan Rahasia Hancurkan Hutan Papua.
[data: The Gecko Project
dan Mongabay, 11 February 2019]
The Gecko Project, bekerja sama dengan
Mongabay, Tempo, dan Malaysiakini, pada tahun 2020, menerbitkan laporan
investigasi hasil penelusuran di balik Proyek Tanah Merah di Papua. Ini adalah
proyek raksasa dengan berbagai teka-teki terhadap pembangunan perkebunan sawit
berskala besar di Papua Barat, Indonesia.
Para pemegang saham proyek ini kebanyakan
hanyalah kedok. Mereka bagaikan boneka. Perusahaan-perusahaan itu pun layaknya
tameng yang menyembunyikan aktor sebenarnya yang mendapat manfaat dari proyek
itu. Entah, apakah itu betul-betul Chairul Anhar sendiri atau justru orang lain
yang bersmbunyi dibalik nama itu?
Ketika proyek hendak dimulai, Bupati Boven
Digoel kala itu, Yusak Yaluwo, ditangkap dan dipenjara di Jakarta atas korupsi
anggaran daerah. Dari hasil penelusuran ini, terkuak, Yusak menandatangani
dokumen-dokumen penting proyek ini dari balik penjara!
Tanah, hutan dan air yang menghidupi Suku Auyu, masyarakat adat di Papua Selatan terancam keberadaannya oleh proyek siluman raksasa yang dikawal TNI dan Polri, membuat masyarakat lokal merasa takut, khawatir, resah dan mengalami intimidasi yang luar biasa. Mereka pun tak mendapatkan kesempatan menyampaikan pendapat atau pandangan soal proyek ini dan dampaknya bagi mereka. Bahkan, seorang warga dipukuli sampai tewas oleh aparat pada saat pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas proyek ini.
Pada Desember 2012, dalam konferensi pers
di sela-sela forum bisnis Islam di Malaysia, seorang lelaki bernama Chairul
Anhar, membuat pernyataan berani. Dia menyatakan, perusahaannya telah memegang
izin 4.000 kilometer persegi tanah untuk perkebunan sawit di Indonesia.
Luasan ini mencapai enam kali Provinsi
Jakarta dan terletak persis di jantung pulau burung, Papua. Chairul menampilkan
diri bak investor yang sudah menggenggam Papua. Dia mengaku sebagai presiden,
CEO, dan pemilik konglomerat bernama Menara Group. Dia berpergian dengan mobil
mewah Bentley dan jet pribadi.
Proyek Tanah Merah ini tak lain rencana
mengeruk uang miliaran dolar AS dari pembabatan hutan tak tersentuh. Kawasan
ini merupakan hamparan hutan hujan terluas tersisa di Asia Pasifik. Hutan bakal
jadi kebun sawit.
“Ketika Anda melihat pulau itu dari atas,
bahkan sampai hari ini pun, sebagian besar yang Anda lihat adalah hamparan luas
hutan hujan,” kata Bruce Beehler, ahli biologi di Smithsonian Institution.
Dia pernah menghabiskan empat dekade untuk
mempelajari pohon dan burung di Papua. Beehler coba memberikan gambaran kondisi
alam dan tutupan hutan di sana.
“Saya dapat meyakinkan, bahwa hutan di (sepanjang
aliran sungai) Digoel sangat kaya dan kemungkinan memiliki jutaan spesies
invertebrata, mikro-organisme, dan tumbuhan lain,” katanya.
“Mereka mungkin menyimpan bermacam hal
yang belum diketahui dan kelak bisa sangat berguna bagi umat manusia di masa
depan jika kita dapat mengenali dan memahami mereka.”
Investigasi ini coba mengurai bisnis dan
hubungan Chairul dengan proyek ini. Terungkap, betapa kepemilikan proyek ini
penuh misteri. Para investor yang bersembunyi di belakang proyek ini
menggunakan berbagai cara dan taktik menyamarkan wajah mereka.
Analisa Penyunting
Dari berbagai data jurnalis tidak pernah diungkap siapa aktor sebenarnya di balik rencana proyek raksasa tanah merah, yang nampak hanyaah mainan pejabat negara melalui surat perijinan. Misalnya pada masa rezim Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melalui Menteri Kehutanan Sulfikli Hasan (2012-2014) menerbitkan Ijin Pelepasan Kawasan Hutan kepada Menara Grup, perusahan asal Malaysia yang memunculkan nama “Chairul Anhar”
