Sabtu, 30 Mei 2026

 

Kesepakatan Rahasia Hancurkan Hutan Papua.

[data: The Gecko Project dan Mongabay, 11 February 2019] 


Gambar Ilustrasi Sungai Digoel dan Hamparan luas Hutan Hujan Tropis di Papua Selatan.

Invetigasi

The Gecko Project, bekerja sama dengan Mongabay, Tempo, dan Malaysiakini, pada tahun 2020, menerbitkan laporan investigasi hasil penelusuran di balik Proyek Tanah Merah di Papua. Ini adalah proyek raksasa dengan berbagai teka-teki terhadap pembangunan perkebunan sawit berskala besar di Papua Barat, Indonesia.

Para pemegang saham proyek ini kebanyakan hanyalah kedok. Mereka bagaikan boneka. Perusahaan-perusahaan itu pun layaknya tameng yang menyembunyikan aktor sebenarnya yang mendapat manfaat dari proyek itu. Entah, apakah itu betul-betul Chairul Anhar sendiri atau justru orang lain yang bersmbunyi dibalik nama itu?

Ketika proyek hendak dimulai, Bupati Boven Digoel kala itu, Yusak Yaluwo, ditangkap dan dipenjara di Jakarta atas korupsi anggaran daerah. Dari hasil penelusuran ini, terkuak, Yusak menandatangani dokumen-dokumen penting proyek ini dari balik penjara!

Tanah, hutan dan air yang menghidupi Suku Auyu, masyarakat adat di Papua Selatan terancam keberadaannya oleh proyek siluman raksasa yang  dikawal TNI dan Polri, membuat masyarakat lokal merasa takut, khawatir, resah dan mengalami intimidasi yang luar biasa. Mereka pun tak mendapatkan kesempatan menyampaikan pendapat atau pandangan soal proyek ini dan dampaknya bagi mereka. Bahkan, seorang warga dipukuli sampai tewas oleh aparat pada saat pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas proyek ini.

Pada Desember 2012, dalam konferensi pers di sela-sela forum bisnis Islam di Malaysia, seorang lelaki bernama Chairul Anhar, membuat pernyataan berani. Dia menyatakan, perusahaannya telah memegang izin 4.000 kilometer persegi tanah untuk perkebunan sawit di Indonesia.

Luasan ini mencapai enam kali Provinsi Jakarta dan terletak persis di jantung pulau burung, Papua. Chairul menampilkan diri bak investor yang sudah menggenggam Papua. Dia mengaku sebagai presiden, CEO, dan pemilik konglomerat bernama Menara Group. Dia berpergian dengan mobil mewah Bentley dan jet pribadi.

Proyek Tanah Merah ini tak lain rencana mengeruk uang miliaran dolar AS dari pembabatan hutan tak tersentuh. Kawasan ini merupakan hamparan hutan hujan terluas tersisa di Asia Pasifik. Hutan bakal jadi kebun sawit.

“Ketika Anda melihat pulau itu dari atas, bahkan sampai hari ini pun, sebagian besar yang Anda lihat adalah hamparan luas hutan hujan,” kata Bruce Beehler, ahli biologi di Smithsonian Institution.

Dia pernah menghabiskan empat dekade untuk mempelajari pohon dan burung di Papua. Beehler coba memberikan gambaran kondisi alam dan tutupan hutan di sana.

“Saya dapat meyakinkan, bahwa hutan di (sepanjang aliran sungai) Digoel sangat kaya dan kemungkinan memiliki jutaan spesies invertebrata, mikro-organisme, dan tumbuhan lain,” katanya.

“Mereka mungkin menyimpan bermacam hal yang belum diketahui dan kelak bisa sangat berguna bagi umat manusia di masa depan jika kita dapat mengenali dan memahami mereka.”

Investigasi ini coba mengurai bisnis dan hubungan Chairul dengan proyek ini. Terungkap, betapa kepemilikan proyek ini penuh misteri. Para investor yang bersembunyi di belakang proyek ini menggunakan berbagai cara dan taktik menyamarkan wajah mereka.

Analisa Penyunting

Dari berbagai data jurnalis tidak pernah diungkap siapa aktor sebenarnya di balik rencana proyek raksasa tanah merah, yang nampak hanyaah mainan pejabat negara melalui surat perijinan. Misalnya pada masa rezim Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melalui Menteri Kehutanan  Sulfikli Hasan (2012-2014) menerbitkan Ijin Pelepasan Kawasan Hutan kepada Menara Grup, perusahan asal Malaysia yang memunculkan nama “Chairul Anhar”



Dari skenario rencana proyek raksasa tanah merah di Boven Digoel Papua Selatan, muncul pertanyaan apakah ada kaitannya dengan Proyek Strategi Nasional saat ini ?

Petunjuknya jelas, untuk memuluskan proyek Raksasa Tanah Merah di Boven Digoel dibutuhkan regulasi hukum guna melegalkan proyek dimaksud, maka diadopsilah "Omnibus Law" dimasa periode kedua rezim Presiden Joko Widodo. Dan dengan adanya Omnibus Law rencana Proyek Raksasa Tanah Merah Digoel diwujudkan melalui Proyek Stategi Nasional (PSN).

Penyunting data: Kristian Griapon, 2026.

Entri yang Diunggulkan

  Jump to Content Jump to Main Navigation ...