Jumat, 26 Juni 2026

 

Soegoro Atmoprasodjo













Informasi Pribadi
Lahir: 23 Oktober 1923 di Yogyakarta
KebangsaanIndonesia

Soegoro Atmoprasodjo (atau Sugoro Atmoprasojo, Sugoro Admoprasojo) adalah salah satu orang pertama yang memperkenalkan nasionalisme Indonesia di Papua. Ia lahir di Yogyakarta pada 23 Oktober 1923 dan merupakan bagian dari kaum Priayi. Dia aktif dalam Taman Siswa bentukan Ki Hadjar Dewantara dan menjadi aktivis Partai Indonesia (Partindo). Pada 1935, dia dibuang ke Digul, Tanah Merah, Papua, dengan tuduhan terlibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia terhadap Belanda pada 1926/1927 di Jawa Tengah.[1]






Awal nasionalisme Indonesia di Papua

Pada awal pendudukan Jepang, pemerintah Belanda membawanya ke Australia. Selama di Australia dia menjadi orang kepercayaan ChO van der Plas dan JPK van Eechoud. Setelah Jepang kalah, dia kembali dibawa ke Papua dan bekerja di Sekolah Papoeainternaat di Hollandia, sekolah pamong praja atau polisi untuk orang Papua.[2]

Cara Soegoro menanamkan nasionalisme Indonesia kepada para siswanya di antaranya memperkenalkan lagu Indonesia Raya dan membentuk kelompok diskusi politik. Dalam berbagai diskusi, dia berusaha meyakinkan murid-muridnya bahwa mereka bagian dari Indonesia yang memiliki keanekaragaman seperti halnya Papua yang berasal dari banyak suku. Kepada muridnya, dia menekankan persatuan menjadi kunci utama untuk melepaskan diri dari kuasa kolonial Belanda. Upayanya membuahkan hasil. Salah satu dari pertemuan ini adalah di Kampung Tobati, di mana Frans Kaisiepo menencetuskan nama Irian dari legenda Manseren Koreri, yang memiliki makna di beberapa bahasa lokal Papua.[3] Sehingga sejak September 1945,[4] Frans Kaisiepo dan Marcus Kaisiepo mulai mempromosikan penggunaan nama Irian untuk mengganti Papua seperti penggantian nama sekolah.[5]

Menurut Suyatno Hadinoto dalam Api Perjuangan Pembebasan Irian Barat, Soegoro kemudian membentuk gerakan bawah tanah untuk menentang pemerintah Belanda. Gerakan tersebut bernama IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland).

Pemberontakan pertama di Papua







M.S. Rumagesan, Silas Papare, N.L.Suwages, Sugoro Atmoprasojo, dan A.H. Nasution berbincang-bincang selama Konferensi Putra-putra Irian Barat di Cibogo Bogor, 14-15 April 1961

Soegoro merencanakan pemberontakan dengan melibatkan siswa sekolahnya dan penduduk di kota Nica (Kampung Harapan) dan anggota batalion Papua antara lain Corinus Krey, Markus Kaisiepo, Lukas Rumkorem, Lisias Rumbiak, Frans Kaisiepo, dan dua orang asal Sumatera, yaitu Sutan Hamid Siregar dan Aran Panjaitan, keduanya dikenal dengan gelar Panggoncang Alam. Soegoro juga mengajak eks tentara Heiho yang kebanyakan berasal dari Sumatera dan Jawa.

Menurut Suyatno, pemberontakan akan dilancarkan pada 31 Agustus 1945. Sedangkan Bernarda Meteray menyebut Soegoro baru menyampaikan rencana perlawanannya pada 15 dan 16 Agustus 1945[1] untuk dilaksanakan 15-16 Desember 1945.[6] Lain lagi tim Dekdikbud dalam Biografi Pahlawan Nasional Marthin Indey dan Silas Papare, menyebut pemberontakan dilaksanakan 25 Desember 1945. Namun pemberontakan yang dilancarkan pada bulan Desember 1945 yang dipimpin Soegoro dengan mantan Diguli Nottan dan Aron Pandjaitan. Menurut van Eechoed saat itu sedang dilaksanakan perayaan oleh para orang eropa.

Rencana pemberontakan itu keburu terendus pemerintah Belanda. Sekitar 250 eks Heiho ditahan menggunakn pasukan yang didatangkan dari Rabaul. JPK van Eechoed menangkap semua orang Jawa (dan Sumatra) di area Hollandia, kecuali beberapa yang ia benar-benar percayakan, seperti Soegoro. Namun Soegoro akhirnya ditangkap pula bulan Februari 1946 dan dipenjarakan di Hollandia (Jayapura). Silas Papare yang ditangkap dan diasingkan ke Serui akibat keterlibatannya di pemberontakan ini, akibatnya Frans Kaisiepo yang dipilih untuk dikirim oleh pemerintah Belanda pada Konferensi Malino.[7][8][9]

Pemberontakan kedua di Papua

Pada 9 Juli 1946, sebelum pergi menuju Konferensi Malino, Kaisiepo bersama Corinus Krey bertemu dengan Soegoro di penjara Abepura yang difasilitasi Elly Uyo dan Johan Aer, di mana mereka setuju akan penggunaan nama Irian.[4] Dari penjara, Soegoro kembali merencanakan dua kali pemberontakan dari dalam penjara yang pertama pada Juli 1946 saat Konferensi Malino dipimpin oleh Panggoncang Alam asal Minangkabau untuk membebaskan Soegoro yang melibatkan Marthen Indey, Corinus Krey, Bastian Tauran, dan orang-orang Papua dari sekolah Soegoro, sebelas orang Ambon yang bekerja sebagai tukang reparasi, lima tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), seorang anggota batalion Papua milik van Eechoed, dan 30 pemuda Papua yang berasal dari sekitar Danau Sentani.[1][2]

Pemberontakan ketiga di Papua

Usaha pemberontakan ini dilaksanakan pada 31 Desember 1946 - 4 Januari 1947. Direncanakan, Soegoro akan menjadi Resident, Marthen Indey sebagai administrator, dan Salmon Tamaela, seorang asal Ambon anggota KNIL sebagai pemimpin militer. Rencana itu gagal karena seorang anggota batalion Papua membocorkannya kepada pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda menangkap dan menginterogasi para pemberontak. Seperti Marthen Indey, Corinus Krey, Silas Papare, Petrus Wettebossy. Beberapa pelaku diasingkan dan dibebaskan, tetapi Soegoro dihukum seumur hidup, semula di Hollandia kemudian dipindahkan ke penjara Tanah Merah, Merauke.[2] Berkat lobi pemerintah Indonesia, hukuman Soegoro diringankan menjadi 14 tahun.[6]

Walau Soegoro tidak terlibat lagi, menurut catatan J.C Noorlander, terjadi tiga pemberontakan sejak Maret - April 1947. Aksi ini dipimpin oleh Marthen Indey dan Willem Inuri, pendiri partai Commite Nasional Papua (CNP). Menurut Noorlander rencana pemberontakan ini disebabkan kerja sama antara polisi dan tentara serta para guru di Sekolah Pamong Praja yang sempat dipimpin Soegoro.[10]

Usaha Soegoro diluar Papua











Konferensi Perintis Irian Barat Indonesia Bagian Timur.

Pada 5 April 1947, Soegoro yang dihukum 14 tahun dan Willem Nottan asal Tual, Kepulauan Kei yang dihukum sepuluh tahun, serta lima tahanan lainnya, berhasil melarikan diri dari penjara Tanah Merah, Merauke, menuju Papua Nugini, lalu ke Australia.[1]

Pada 1950, Soegoro kembali ke Indonesia dan bekerja di Departemen Luar Negeri. Menjelang kembalinya Papua ke pangkuan Republik Indonesia, Soegoro menjadi delegasi Indonesia dengan kedudukan sebagai penasihat dalam pemerintahan transisi UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority ).

Yang kemudian Soegoro Admoprasodjo disebut Bapak Irian Barat dan  JPK van Eechoud.disebut Bapak Papua.

Referensi

  1. Sitompul, Martin (2015-08-12). "Soegoro Atmoprasodjo, Orang Pertama yang Memperkenalkan Nasionalisme Indonesia di Papua". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2022-08-11.
  2. Chauvel, Richard (2009). "From the ramparts of Fort Victoria: knowing Indonesia through a distant mirror". Review of Indonesian and Malaysian Affairs. 43 (1). Association for the Publication of Indonesian and Malaysian Affairs Inc.: 165–187.
  3. Wanggai, Tony V.M. (2008). Rekonstruksi Sejarah Islam di Tanah Papua (PDF) (Thesis). UIN Syarif Hidayatullah. Diakses tanggal 2022-01-30.
  4. Patiara, John; Renwarin, Herman; Soedharto, Bondan; Palangan, M. (1983). "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialis dan Kolonialisme di Daerah Irian Jaya" (PDF). Kemdikbud. hlm. 72–73. Diakses tanggal 2021-11-03.
  5. Haryono, P.S. (1996). Pahlawan nasional Frans Kaisiepo (dalam bahasa Tagalog). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. hlm. 30. Diakses tanggal 2021-11-29.
  6. Sitompul, Oleh Martin (2019-11-30). "Bunuh Diri Kelas Soegoro Atmoprasodjo". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2022-12-28.
  7. Lumintang et al. 1997, hlm. 32.
  8. Lumintang et al. 1997, hlm. 38.
  9. Lumintang et al. 1997, hlm. 74, Ada kesalahan pencetakan, karena pemberontakan terjadi pada hari 25 December 1945 seperti di paragraf sebelumnya.
  10. Meteray, Bernarda; Jamal, Ode (2019). "Pertumbuhan Kesadaran Nasionalisme Indonesia di antara Orang Papua di Jayapura 1945-1949" (PDF). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Pengembangan Ipteks Dan Seni Edisi V, 2019. 5 (1). Universitas Cendrawasih: 132–141.

Bibliografi




Selasa, 23 Juni 2026

 

Primordialisme Kesukuan Papua Dalam Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat.

By:Kristian Griapon, April 13, 2023

Pemahaman Analisa Penulis

"Primordialisme Kesukuan Papua, yaitu, hubungan tradisional dalam kekerabatan berdasarkan biologis yang mengikat suatu kelompok orang didalam lingkungan kehidupan sosial-politik, sosial-ekomi dan soial-budaya besama yang disebut suku, dalam lingkungan wilayah masyarakat adat Papua". Pemahamannya kurang lebih demikian.

Apabilla  terbangun fanatisme (faham) primordialisme kesukan Papua dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat, maka akan terlahir sentimen kesukuan yang membentengi nasionalisme Papua, yaitu : "Tampilnya seorang pigur pejuang yang lebih menonjolkan karakteristik kesukuannya dari pada  nasionalisme Papua".

Primordialisme kesukuan Papua yang telah berada sejak lahir, bertumbuh dan berkembang bersama penduduk asli Papua di lingkungan wilayah masyarakat adat Papua, harus dimanage (diolah), dibina dengan baik dan benar guna menjadi kontribusi dalam perjuangan bersama bangsa Papua Barat, menuju tujuan bersama Papua Barat yang merdeka, aman dan sejahtera.

Tampilnya pigur yang menonjolkan karakteristik kesukuan, akan memunculkan reaksi negatif yang menurunkan partisipan dukungan nasionalisme dalam perjuangan, dan mendorong bermunculan kelompok-kelompok pejuang lain yang sifatnya sporadis, berjuang dengan cara sendri-sendiri untuk mempertahankan eksistensi kesukuan dari ancaman yang dihadapinya. Pada kondisi seperti itu akan terjadi saling mempertahan prinsip tanpa adanya saling pengakuan masalah bersama, sehingga yang terlihat masalah suku bukan masalah bangsa (bersama), dan membuat arah perjuangan tidak jelas, yang menjadi korban rakyat Papua, menghadapi tekanan fisik maupun non fisik dalam situasi yang tak menentu. "Karakteristik Perjuangan seperti itu harus dihindari dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat".

Pola karakteristik pigur kesukuan dalam masyarakat adat Papua sedang dibangun oleh Penguasa Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui praktek pemekaran daerah-daerah otonom baru di wilayah adat kesukuan penduduk asli Papua. Tujuan utamanya motivasi politik, yaitu mendorong karakteristik kesukuan di dalam daerah-daerah otonom dibawah kendali Jakarta untuk menghancurkan nasionalisme Papua yang telah terbangun.

Tinjauan Historis Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat

Dalam konteks pemahaman penulis, berdasarkan pengamatan terbatas pada perjuangan bangsa Papua Barat yang telah berlangsung sejak Indonesia menduduki wilayah geografi Papua Batar (West New Guinea) pada 1 Mei 1963 hingga saat ini, teramati bahwa, Sejak awal, terlihat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat, telah terbangun dualisme ketokohan, yang menjadi pigur pejuang, membentuk karakteristik >Perjuangan Kelompok< yang berimbas memunculkan konflik intern, membawah arah perjuangan ke tujuan yang tidak jelas dan tidak mendapat dukungan politik masyarakat internasional". 

Dari riset pustaka yang berorientasi pada sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat dan pengamatan langsung terhadap perlawanan rakyat Papua Barat saat ini, penulis menemukan fakta, bahwa sejak awal dalam perjuangan bangsa Papua Barat, telah terjadi perpecahan dalam perlawanan politik terhadap pendudukan bangsa Indonesia di Wilayah Geografi Papua Barat. Perpecahan itu  terorganisir kedalam dua kelompok (kubu) pejuang, yaitu: “Kelompok Tokoh Nasionalis Papua, Markus Wonggor Kaisiepo dan Nicolaas Youwe”.

Kelompok Tokoh Nasionalis Papua Nicolaas Youwe mengawali perlawannya di Jayapura dibawah kendali Tokoh Terkemuka Tabi asal daerah Nimboran (Genyem), “Aser Demotekay”, pada tahun 1963, sejak Indonesia mengambil alih kekuasaan atas wilayah Papua Barat dari Belanda melalui UNTEA.

Aser Demotekay mempersiapkan kader penggantinya Yacob Hendrik Prai dan Obeth Hembring keduanya yang saat itu mahasiswa Universitas Negeri Cenderawasih pertama di Jayapura, sebagai generasi tokoh Tabi berikutnya asal daerah Keerom dan Genyem. Obeth Hembring ditangkap oleh militer Indonesia pada saat mengkoordinir demonstrasi rakyat Papua di Jayapura pada tahun 1964 dan dihilangkan secara paksa, hingga saat ini tidak ditemukan jejaknya.

Bentuk Perlawanan yang dibangun oleh kelompok Aser Demotekay, adalah gerakan bawah tanah “Kultus Kargo Melenisme”, yaitu: Diplomasi Politik Melalui Etnik dan Budaya Melanesia untuk Menentukan Nasib Sendiri Bangsa Papua Barat. Bentuk Gerakan Perlawanan Kemerdekaan Papua Barat Tanpa Kekerasan, membangun simpati masyarakat pasifik untuk mendukung kemerdekaan Papua Barat.

Kelompok Tokoh Nasionalis Papua Markus Wonggor Kaisiepo menyusul gerakan perlawanannya di Manokwari, dibawah kendali Tokoh Terkemuka Saireri asal Biak “Terianus Aronggear” pada tahun 1965.

Terianus Aronggear menghimpun tokoh-tokoh Saireri bekas tentara dan polisi Papua pada masa Belanda, dibawah pimpinan Ferry Awom melakun perlawanan bersenjata terhadap pendudukan militer Indonesia di Manokwari dan daerah Saireri lainnya sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan Indonesia diatas wilayah/ Papua Barat. 

Sejak Awal Rakyat Papua Barat Sudah Tidak Percaya Terhadap Keterlibatan PBB Sebagai Penengah Penyelesaiaan Sengketa Wilayah Kekuasaan New Guinea Barat Antara Indonesia Dan Belanda.



Konspirasi politik internasional tingkat tinggi antara Indonesia, Amerika serikat (AS) dan sekutunta Inggris menekan Belanda  menyerahkan kekuasaan kontrol atas wilayah Papua Barat (New Guinea Barat) kepada Indonesia melalui skenario politik internasional sebuah perjanjian yang disebut "New York Agreement, 15 Agustus 1962".

Konspirasi politik tingkat tinggi internasional itu telah teraca, diketahui oleh para tokoh nasionalis Papua Barat, yang memunculkan kontra politik di wilayah Papua Barat melalui gerakan perlawanan dibawah tanah (klandistin) Pada saat penyerahan kekuasaan kontrol wilayah New guinea Barat dai Blanda ke Indonesia melalui UNTEA pada 1 Mei 1963.

PEPERA 1969, terlihat jelas tabiat buruk penguasa Indonesia yang dipertontonkan kepada para tokoh pro kemerdekaan Papua Barat. kecurangan dalam Act of Free Choice menambah ketidak percayaan rakyat Papua Barat untuk hidup bersama dibawah kendali bangsa melayu Indonesia. Hal itu memotivasi spirit perlawanan bangsa Papua Barat mengambil kembali hak kemerdekaannya yang telah dirampas melalui konspirasi politik internasional tingkat tinggi, yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia, menekan Belanda memberikan kontrol kekuasaan wilayah papua Barat kepada Indonesia, melalui New York Agreement, 15 Aguetus 1962.

Setelah PEPERA tahun 1969, pada, 1 Juli 1971 terbentuklah Pemerintahan Sementara Revolusioner Papua Barat, adalah bentuk perlawanan di dalam negeri yang mempersatukan kubu perlawanan  di dalam negeri, mempertemukan kubu Terianus Aronggear melalui tokoh kadernya Seth Jafeth Rumkorem dan Kubuh Aser Demotekay melalui tokoh kadernya Yacob Hendrik Prai.

Langkah selanjutnya, satu tahun kemudian (!972)  atas dukungan otoritas PNG dibentuk pemerintahan sementara Sorong-Samaray di pengasingan. Tujuan pembentukan pemerintahan sementara Sorong -samaray adalah bentuk perjuangan di dunia internasional untuk mendapatkan dukungan politik negara-negara pendukung dan mencari bantuan senjata guna mendukung perlawanan didalam negeri yang dibawah kendali pemerintahan sementara revolusioner Papua Barat, dibawah tanggungjawab kedua tokoh OPM, Seth Jafeth Rumkorem dan Yakob Hendrik Prai.

tabiat buruk bangsa Indonesia melaluimengorbitkan kader perlawanan bersenta, Seth Jafeth Rumkorem tokoh berikutnya asal Saireri (Biak).

Primordialisme Kesukuan Papua telah mengakar, Menjadi Tantangan Dalam Perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua Barat.

Pertanyaannya, Bagaimana Mengolah Tantangan itu menjadi Modal Dasar Kekuatan Nasionalisme Papua Melawan Penindasan Diatas Negeri Papua Barat?

Menjadi catatan penting generasi penerus perjuangan kemerdekaan Papua Barat di Abad-21.

Pandangan Penulis tertuju pada kata kunci: Peran Ketokohan, Kepemimpinan Kolektif, memanage perjuangan dengan baik.


Diujung Penyesalan, Para Tokoh Papua Pro Indonesia.

Merefleksi Papua saat ini di dalam NKRI
oleh: Kristian Griapon

Banyak Para Tokoh Papua Pro Indonesia yang kecewa terhadap tatacara pelaksanaan PEPERA 1969. Namun apabolehbuat, itu kemauan mereka, sejak awal telah memilih Indonesia, dan terbuai dalam berbagai janji kosong.@Kgr

Kamis, 18 Juni 2026

Mekanik Cina yang diam-diam memimpin revolusi Melanesia 40 tahun

RNZ Berita Pasifik, 28 Mei 2020, 1:32pm


Aksesoris tradisional dari Papua Barat bersama bendera kemerdekaan Papua Barat yang dilarang, Morning Star.Kredit foto:Rohan Radheya.

oleh Rohan Radheya *

Pada tahun 1975 ketika Tan Sen Thay melarikan diri dari tanah kelahirannya Indonesia ia tiba di Belanda dengan hanya dua gulden dan tas noken Papua Barat yang ditenun secara tradisional.

Orang Indonesia China itu mengklaim kepada otoritas imigrasi Belanda bahwa ia adalah perwakilan senior pemerintah Papua Barat, elit yang didominasi kulit hitam dari provinsi Melanesia di federasi paling Timur di Indonesia.

Pemerintahan mereka berada di panggung kritis melancarkan pemberontakan yang tidak dilengkapi dengan baik untuk kemerdekaan.

“Jika kita tidak segera mendapatkan bantuan Belanda, kita akan musnah,” ia memperingatkan.

Tan Sen bersikeras bahwa Belanda memiliki kewajiban moral untuk membantu Papua Barat. Setelah insiden Trikora yang terkenal antara Belanda dan Indonesia pada tahun 1961, Belanda terpaksa melepaskan Papua di bawah tekanan internasional.

Pada tahun 1969, Papua Barat dianeksasi oleh Indonesia dalam referendum yang sangat dikritik yang dikenal sebagai Act of Free Choice.

Sekitar 1025 pemimpin suku ditangkap untuk memilih status politik dari populasi hampir satu juta penduduk asli Papua sementara tentara Indonesia diduga memegang seluruh desa di bawah todongan senjata. Para peserta memilih dengan suara bulat untuk kontrol Indonesia.

Tuduhan serius pelanggaran hak asasi manusia akan mengikuti, termasuk klaim kejahatan perang dan genosida yang dilakukan terhadap penduduk asli Papua. Tan Sen dan rekan-rekannya bersumpah mereka tidak akan menerima hasil referendum, tetapi akan terus berjuang melawan Indonesia untuk nasib pulau kaya sumber daya.


Bukit-bukit yang menghadap ke ibukota Papua Barat, Jayapura.Rohan Radheya

Pemerintah Belanda menyadari bahwa dengan mendeportasi Tan Sen, dia hampir pasti akan dianiaya saat kembali. Dia diberikan suaka politik di Belanda.

Setelah pertama kali menginjakkan kaki di Belanda, Tan Sen mulai bekerja di sebuah garasi tua di Den Haag, hanya beberapa mil jauhnya dari Parlemen Belanda.

“Saya kemudian memilih Den Haag, kursi parlemen Belanda karena pemerintah Belanda memiliki kewajiban moral untuk membebaskan negara saya,” katanya.

Garasi adalah hotspot terkenal untuk memproduksi mobil golf yang terkenal secara nasional pada masa itu.

Sebagai mekanik Tan Sen mendapatkan upah minimum 1000 gulden per bulan (sekitar US $ 500 pada saat itu) untuk bekerja 80 jam seminggu. Dia akan mengirim sebagian besar gajinya kembali ke rekan-rekannya di Papua Barat yang meluncurkan serangan sporadis terhadap tentara Indonesia dari hutan terjal di Papua Barat.

Sisa uang yang akan dia bungkus dengan kain pinggang dan bersembunyi di bawah bantalnya sambil hanya bertahan hidup dengan mie instan sederhana.

“Satu sen yang disimpan adalah satu sen yang diperoleh, itu adalah moto saya,” katanya. Setelah bekerja keras selama 12 tahun Tan Sen memutuskan dia telah menabung cukup uang untuk membuka toko hadiahnya sendiri.

Dia menamainya setelah ibukota Papua Barat Hollandia (sekarang bernama Jayapura).

Toko suvenir antiknya menjual segala sesuatu mulai dari patung porselen impor dan batu permata astrologi langka hingga lukisan seni Konfusianisme dan perhiasan Cina yang murah.

Uang mulai mengalir dan kerja keras Tan Sen mulai membuahkan hasil. Dia mengintensifkan kontribusinya kepada Bangsa Papua Merdeka atau OPM (Gerakan Papua Merdeka).


Sebuah foto langka Tan Sen Thay (kanan) dengan Louis Nussy (kiri), mantan Panglima peringkat tinggi OPM, diambil di Den Haag, Belanda 2016. NGRWP

Tan Sen masih tinggal di Den Haag hari ini, dua blok jauhnya dari rumahku. Pada musim semi 2016 ketika saya mengunjungi Tan Sen di Den Haag, dia menutup tokonya dan mengubahnya menjadi rumahnya.

Berusia 92 tahun dan dalam kesehatan yang sempurna, ia pada saat itu sudah melakukan cukup tabungan untuk mengamankan masa pensiunnya. Seorang Konfusianisme yang bijaksana yang memegang beberapa rahasia terbaik untuk sejarah yang hilang, Tan masih berharap suatu hari untuk kembali ke tanah air tercinta.

Memperingatkan saya untuk tidak mengambil foto dan meninggalkan ponsel saya di aula dengan sepatu saya, dia menunjukkan kepada saya dokumen lama yang '' tidak ada yang pernah melihat”: foto hitam dan putih tua dari gerilyawan Papua Barat di tahun 1970-an, data transaksi dari profil tinggi simpatisan Papua Barat di seluruh dunia dan testimonial dari rekrutan yang baru bergabung di seluruh dunia.

“Tahukah Anda bahwa selama jatuhnya Soeharto, salah satu kerabatnya datang kepada kami dan menawarkan kami $ 500.000 untuk membeli senjata?” Tan Sen bertanya.

Saya sedikit skeptis sampai dia menunjukkan kepada saya catatan dengan angka, tanggal, dan angka yang berkaitan dengan rekening bank asing.

Dia mengatakan kepada saya bahwa sebelum dia akan mati, dia akan mengirim semua dokumen ke Universitas Leiden di Belanda dan menjualnya seharga satu juta euro. Keuntungannya akan diberikan kepada istrinya yang di Papua Barat.


Gerilyawan Papua Barat OPM atau Papua Merdeka di markas mereka di hutan Papua.Rohan Radheya

Selama bertahun-tahun Tan Sen merancang dan menenun seragam buatan tangan, kemudian menyelundupkan mereka kembali ke OPM melalui kamp-kamp pengungsi di daerah dekat perbatasan dengan PNG.

Dia juga akan mengatur suaka bagi pengungsi Papua Barat dan membiayai perjalanan mereka ke luar negeri untuk membantu mereka bermukim di negara-negara seperti Swedia dan Yunani.

Orang Papua Barat yang kemudian mengambil suaka di seluruh penjuru Eropa telah mendengar tentang dia. Dalam kekaguman pada apa yang dia lakukan untuk Papua Barat, mereka akan memanggilnya sebagai 'Meneer Tan' (Lord Tan) atau 'Bapak Tan' (Pastor Tan) dan mengiriminya kue sagu buatan sendiri dengan bunga dan hadiah.

Jika ada yang ingin bergabung dengan gerakan kemerdekaan di luar negeri, Tan Sen adalah satu-satunya yang diamanatkan oleh pimpinan OPM untuk mengambil sumpah kesetiaan mereka.

Rekrutan harus meletakkan tangan kanan mereka di atas Alkitab, dan mencium bendera bintang pagi Papua Barat yang dilarang. Jika Tan Sen menganggap mereka cocok, mereka bisa bergabung.


Seth Jafeth Rumkorem, proklarator Republik Papua Barat pada 1 Juli 1971.NGRWP

Pencarian untuk Kebangsaan

Tan Sen Thay lahir di Surabaya, Indonesia dalam sebuah keluarga kaya Cina. Tumbuh sebagai orang Tionghoa Indonesia selama pembersihan komunis 1965 oleh Soeharto, keluarganya melarikan diri ke Papua Barat karena takut akan penganiayaan. Orang tuanya adalah transmigran Hokkien yang bermigrasi ke Indonesia dari China untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Setelah memberikan kontribusi yang murah hati kepada masyarakat Papua, keluarganya segera mulai membangun reputasi yang dihormati di sekitar lingkungan Abepura di ibukota Papua Barat Jayapura. Ketika Tan Sen muda melihat pelanggaran hak asasi manusia massal yang dilakukan terhadap orang Papua Barat di tangan Angkatan Darat Indonesia, itu membuatnya marah.

Dia membuat keputusan yang drastis. Keesokan harinya ia akan berangkat ke hutan untuk bergabung dengan gerakan Papua yang dipimpin oleh seorang mantan Sersan Papua-Indonesia bernama Seth Jafeth Rumkorem.

Rumkorem adalah seorang perwira muda Jerman yang karismatik yang terlatih di akademi militer Indonesia di Bandung. Ayahnya Lukas Rumkorem telah menjadi bagian dari milisi nasionalis Indonesia yang disebut Barisan Merah Putih. Awalnya ayah dan anak membuka lengan mereka untuk orang Indonesia setelah keberangkatan Belanda.

Tetapi setelah melihat kekejaman Indonesia dilakukan terhadap rekan senegaranya, Seth Rumkorem akan segera membelot dan melanjutkan untuk mengatur pemberontakan pemberontak selama puluhan tahun dari hutan Papua melawan tentara Indonesia atas nasib bagian Barat pulau New Guinea.

Pada tanggal 1 Juli 1971 Rumkorem dan para pengikutnya berkumpul di daerah perbatasan dengan PNG. Tujuannya adalah untuk memboikot pemilihan Papua Indonesia. Dalam konsultasi dengan Tan Sen dan orang Papua terkemuka lainnya, Rumkorem memproklamirkan konstitusi, senat, tentara, bendera nasional, dan lagu kebangsaan.

Proklamasi yang dibaca sebagai berikut:

“Kepada semua orang Papua, dari Numbai ke Merauke, dari Sorong ke Baliem (Gerak Bintang) dan dari Biak ke Pulau Adi. Dengan bantuan dan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa, kita mengambil kesempatan ini untuk menyatakan kepada Anda semua bahwa hari ini, 1 Juli 1971, tanah dan orang-orang Papua telah diproklamasikan untuk bebas dan mandiri (de facto dan de jure) Semoga Tuhan bersama kita, dan semoga dunia dinasihati, bahwa kehendak sejati rakyat Papua untuk bebas dan mandiri di tanah air mereka sendiri telah terpenuhi.


Sebuah perahu Prao atau tradisional Melanesia di kota Vanimo di Papua Nugini dekat perbatasan dengan Papua Barat yang dikuasai Indonesia.Rohan Radheya

Tenggelam atau Berenang

Tan Sen adalah seorang introvert yang saleh dan sopan tanpa pengalaman nyata dalam perang tetapi dengan kesetiaannya yang teguh dan latar belakang etnis, ia dianggap sebagai alat propaganda pamungkas oleh komandan senior kulit hitamnya. Rumkorem menunjuknya sebagai Menteri Keuangan di kabinetnya.

Tan diminta untuk melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melobi kemerdekaan Papua Barat. Dengan delegasi kecil Tan Sen berangkat ke London, Senegal dan Kepulauan Solomon untuk mengumpulkan dukungan internasional. Rekan-rekannya di bawah kepemimpinan Rumkorem akan tetap berjuang dari semak Papua yang padat sampai Tan Sen dan rekannya berhasil menemukan dukungan diplomatik.

“Tapi tanpa bantuan dari luar itu tidak mungkin,” klaim Louis Nussy, salah satu rekan Rumkorem yang paling tepercaya, yang menjelaskan bahwa kekuatan kecil mereka tidak dapat menandingi Angkatan Darat Indonesia untuk peralatan.

“Orang Indonesia dipasok oleh sekutu seperti Rusia dan Amerika Serikat. Kami hanya bergantung pada senapan tikus tua berkarat yang kadang-kadang kami berhasil merebut jauh dari tentara Indonesia,” jelasnya.

"Tidak ada amunisi. Kami hanya akan melelehkan besi di tengah-tengah hutan,” katanya.


Sebuah gerilola Papua Barat dari OPM (Gerakan Papua Bebas).Rohan Radheya

Rumkorem dan rekan-rekannya terus menderita korban berat, dan kehilangan medan besar setiap hari. Setelah didorong keluar dari kota-kota seperti Jayapura, Biak dan Manokwari, Rumkorem mulai menyadari bahwa itu adalah situasi 'tenggelam atau berenang'. Dia dan para pendukungnya mundur kembali ke hutan sementara Tan Sen akhirnya mengambil suaka di Belanda.

Tan kehabisan dana untuk melanjutkan lobinya di luar negeri. “Kembali akan bunuh diri,” dia kemudian bersaksi.

“Rantai hanya sekuat mata rantai terlemahnya. Ini tentu saja terjadi dalam konteks kami,” kata Louis Nussy, yang sekarang diasingkan di Yunani.

“Kami sangat efisien dalam taktik gerilya tetapi tanpa perangkat keras yang tepat kami menghadapi kereta luncur yang sulit.

“Kami menyadari itu hanya masalah waktu sebelum kami ditangkap atau dibunuh,” jelasnya.

Sementara itu dengan Tan di luar negeri, Rumkorem memperoleh intelijen berharga dari sesama pejuang kemerdekaan yang telah melarikan diri ke Australia. Sebuah sel simpatisan Papua Barat di tingkat politik tertinggi di Vanuatu, diam-diam bersedia untuk meminjamkan senjata dan amunisi.

Pada tahun 1982, Rumkorem memutuskan untuk berangkat ke kota perbatasan PNG Vanimo untuk berlayar ke Vanuatu. Dia didampingi oleh delapan orang yang paling terpercaya.

Rencananya sangat mudah. Rumkorem akan meninggalkan senjata dan kembali dalam sebulan.

Dia memanggil cabang intelijennya PIS (Dinas Intelijen Papua) dan memerintahkan mereka untuk mendapatkan jadwal cuaca yang akurat di perairan PNG.

"Apa yang Rumkorem tidak tahu adalah bahwa kepala unit intelijennya telah ditahan dan disiksa oleh pasukan khusus Indonesia yang terkenal Kopassanda," kata Sonny Saba, salah satu dari delapan sahabat Rumkorem.

“Di penjara dia disuap dan diberi tugas untuk menjadi informan yang kemudian kami ketahui.

“Strategi musuh sudah jelas. Iming-iming gembala dan hanya akan ada domba,” jelas Saba, yang sekarang tinggal di pengasingan di PNG.

"Rumkom tahu taktik Tentara Indonesia dari dalam ke luar, karena dia adalah mantan sersan Indonesia."

“Ketika dia pergi, para pemberontak akan menjadi tubuh tanpa otak,” katanya.


Sonny Saba di rumahnya di kota perbatasan Vanimo, Papua Nugini.Rohan Radheya

Kepala unit intelijen Rumkorem's kemudian datang dengan tanggal sebelum badai dahsyat akan menyerang perairan PNG.

Rumkorem meninggalkan kepemimpinan penuh di pundak menteri pertahanannya, Richard Joweni dan berangkat ke Vanuatu.

Menghadapi badai, prao mereka (perahu Melanesia tradisional) mogok di Samudra Pasifik dan mereka akhirnya terdampar di Rabaul tanpa makanan dan persediaan.


Peta dari Rabaul Belanda Disediakan

Khawatir tekanan Indonesia, pejabat PNG mengatakan kepada Rumkorem bahwa mereka tidak bisa tinggal, tetapi mereka juga tidak ingin mengekstradisi mereka.

Di Rabaul, orang Papua bertemu dengan jurnalis NY Times Colin Campbell. Rumkorem menyatakan kepadanya bahwa gerakannya mencari revolusi, hak asasi manusia universal, kebebasan, demokrasi dan keadilan sosial.

Ketika ditanya apakah itu termasuk faksi Marxis, dia menjawab, “Tidak, negara kita adalah negara Kristen.”

Pengkhianatan

Ketika Rumkorem akhirnya menyadari bahwa tidak ada senjata di Vanuatu, ia memanggil Tan Sen di Den Haag.

"Rumkom menangis, dan mengerti dia ditipu," kata Tan Sen. "Dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin kembali ke Papua Barat."

"Saya mengatakan kepadanya bahwa saya mendapatkan intelijen yang berharga bahwa orang Indonesia telah menutup perbatasan dan sedang menunggu kepulangannya ... kembali akan menjadi bunuh diri."

"Jangan menggigit lebih dari yang bisa kau kunyah," kataku padanya.

"Diskresi adalah bagian yang lebih baik dari keberanian dan Anda tidak berguna bagi kami kematian, saya memperingatkannya."

Tan Sen kemudian mengatur suaka untuk Rumkorem di Yunani.

Dari Yunani, Rumkorem bermigrasi ke Belanda dari mana ia terus melobi untuk kemerdekaan Papua Barat sampai kematiannya pada tahun 2010, di Wageningen.


Sebuah keluarga pengungsi Papua Barat berduka di makam Seth Jafeth Rumkorem di Den Haag. Rohan Radheya

Kepergian Rumkorem akan menjadi pukulan yang menghancurkan bagi para pejuang Papua Barat yang tersisa di hutan yang memiliki sedikit atau tidak ada pengalaman militer atau senjata.

Pengganti Rumkorem di Papua Barat Richard Joweni terus melakukan pemberontakan gerilya selama tiga dekade setelah keberangkatan Rumkorem, tetapi ia juga tidak cocok dengan senjata modern tentara Indonesia.

Karena takut kematian lebih banyak anak buahnya, Joweni akhirnya menandatangani gencatan senjata dengan utusan khusus Jakarta Dr Farid Hussein pada tahun 2011, yang dikenal sebagai perjanjian 11-11-11-11-11.

Kesepakatan itu ditengahi pada 11 November 2011, pukul 11 di markas OPM di hutan Papua Barat.

Dr Hussein sebelumnya juga menengahi gencatan senjata dengan gerakan kemerdekaan di Aceh dalam apa yang menyebabkan perjanjian Helsinki yang memberikan dasar bagi perdamaian di wilayah Indonesia yang bergolak.


Jenderal Richard Joweni dari OPM (Gerakan Papua Bebas) berpose dengan pengawal di markas OPM di hutan Papua Barat.Rohan Radheya

Joweni kemudian menyelinap keluar dari Papua Barat menggunakan paspor palsu dan melakukan perjalanan ke Vanuatu untuk bertemu dengan Perdana Menteri Moana Carcasses Kalosil pada tahun 2013.

Di sana ia akan membahas proposal untuk melobi keanggotaan Papua Barat di Melanesian Spearhead Group.

Setelah kematian Joweni pada tahun 2015, pencarian dilakukan oleh United Liberation Movement for West Papua di bawah pengawasan Andy Ayamiseba, Rex Rumakiek, Octo Mote dan lainnya, yang akhirnya diambil alih oleh Benny Wenda yang berbasis di Oxford.

Setelah mencapai status pengamat di MSG, ULMWP telah mendapatkan ukuran pengakuan internasional yang mengkhawatirkan Jakarta.


Penulis dan Jurnalis Papua Barat Aprila Wayar berduka di makam Seth Jafeth Rumkorem di Den Haag. Rohan Radheya

Jendela yang ditempelkan di bagian duct

Di ruang tamu Tan Sen tergantung beberapa foto lama dewa perang Konfusianisme kuno, sebuah agama yang dilarang keras selama pemerintahan Soeharto.

Ruang tamu dihiasi dengan beberapa lemari buku yang penuh dengan file berkarat dan dokumen lama. Dia telah melewati semua jendela dengan pita bebek dan membangun pagar di sekitar kaca karena takut mata-mata Indonesia.

Tan Sen mengklaim atase militer konsulat Indonesia di Den Haag baru-baru ini mengunjunginya.

“Dia meminta daftar pejuang kemerdekaan Papua Barat yang tinggal di pengasingan di Belanda,” kata Tan.

"Aku akan dihargai secara royal."

"Apa yang kamu lakukan?" Aku bertanya dengan penasaran.

"Apa lagi? Aku membanting pintu ke hidungnya," dia tertawa kejam.

Tan Sen tidak mempercayai internet dan tidak memiliki ponsel pintar. Dia tidak berbicara bahasa Inggris tetapi fasih berbahasa Belanda.

Dia membaca surat kabar lengkap Belanda di pagi hari, mencatat dan kemudian menempatkan surat kabar di arsipnya. Tan memiliki lemari penuh surat kabar dating kembali ke 1980.

Tokoh perintis dalam gerakan kemerdekaan Papua ini menggunakan nomor telepon rumah tua untuk kadang-kadang tetap berhubungan dengan rekan-rekannya yang lama di hutan.

Dia bertanya tentang perkembangan terbaru di MSG di mana ULMWP terus mengajukan banding untuk keanggotaan penuh.

Seolah-olah dunia telah melewatinya. Sebagian besar orang Papua Barat bahkan tidak tahu dia masih hidup hari ini.

Bahkan intelektual Papua, aktivis, jurnalis internasional, dan generasi muda pejuang Papua yang saya temui selama perjalanan saya di Papua Barat tidak tahu siapa Tan Sen.

Telah menjadi jelas bahwa ketika generasi pertama pejuang kemerdekaan Papua Barat melarikan diri dari Papua, mereka mengambil sebagian besar sejarah Papua bersama mereka.

Hasilnya adalah bahwa generasi muda Papua kehilangan sebagian besar sejarah mereka sendiri.

Ketika saya bertanya apakah dia tetap optimis untuk Kemerdekaan Papua Barat, Tan Sen mengatakan dia merasa kecewa dengan generasi baru pejuang kemerdekaan Papua yang tidak menganggapnya cocok untuk memimpin mereka lebih lama lagi.

Mereka tidak akan mengunjunginya atau memasukkannya dalam pengambilan keputusan karena mereka merasa dia bukan orang asli Papua dan tidak memenuhi syarat.

Gerilyawan Papua Muda Barat dari OPM atau Bangsa Papua Merdeka (Gerakan Papua Merdeka) di markas hutan mereka.Rohan Radheya

"Bagaimana Anda mendefinisikan orang Papua hari ini?" Dia bertanya.

“Ada puluhan ribu orang Papua yang bertugas di angkatan bersenjata Indonesia saat ini.

“Mereka menganggap diri mereka orang Indonesia. Mengapa saya bisa menganggap diri saya orang Papua Melanesia?

"Jika ras akan menentukan identitas atau kebangsaan Anda, tidak akan ada orang kulit putih Afrika atau orang kulit hitam Eropa hari ini," jelasnya, mengutip penderitaan Afrikaners kulit putih di Zimbabwe pasca independen.

“Apa yang akan terjadi pada jutaan transmigran Indonesia yang lahir di Papua setelah 1962 dan menganggap diri mereka orang Papua? "Dia menekankan.

Aku tetap diam. Dia berhenti sebelum menyimpulkan.

“Saya masih optimis bahwa saya bisa kembali ke Papua Barat yang bebas dan merdeka suatu hari nanti,” katanya.

Rohan Radheya adalah pembuat film pemenang penghargaan, fotografer dokumenter dan jurnalis dari Belanda.

Entri yang Diunggulkan

Papuafobia di Indonesia. Oleh: Kristian Griapon Papuafobia Papuafobia adalah fenomena diskriminasi, stigma negatif, dan ketakutan berlebih...