Primordialisme Kesukuan Papua Dalam Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat.
By:Kristian Griapon, April 13, 2023
Pemahaman Analisa Penulis
"Primordialisme Kesukuan Papua, yaitu, hubungan tradisional dalam kekerabatan berdasarkan biologis yang mengikat suatu kelompok orang didalam lingkungan kehidupan sosial-politik, sosial-ekomi dan soial-budaya besama yang disebut suku, dalam lingkungan wilayah masyarakat adat Papua". Pemahamannya kurang lebih demikian.
Apabilla terbangun fanatisme (faham) primordialisme kesukan Papua dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat, maka akan terlahir sentimen kesukuan yang membentengi nasionalisme Papua, yaitu : "Tampilnya seorang pigur pejuang yang lebih menonjolkan karakteristik kesukuannya dari pada nasionalisme Papua".
Primordialisme kesukuan Papua yang telah berada sejak lahir, bertumbuh dan berkembang bersama penduduk asli Papua di lingkungan wilayah masyarakat adat Papua, harus dimanage (diolah), dibina dengan baik dan benar guna menjadi kontribusi dalam perjuangan bersama bangsa Papua Barat, menuju tujuan bersama Papua Barat yang merdeka, aman dan sejahtera.
Tampilnya pigur yang menonjolkan karakteristik kesukuan, akan memunculkan reaksi negatif yang menurunkan partisipan dukungan nasionalisme dalam perjuangan, dan mendorong bermunculan kelompok-kelompok pejuang lain yang sifatnya sporadis, berjuang dengan cara sendri-sendiri untuk mempertahankan eksistensi kesukuan dari ancaman yang dihadapinya. Pada kondisi seperti itu akan terjadi saling mempertahan prinsip tanpa adanya saling pengakuan masalah bersama, sehingga yang terlihat masalah suku bukan masalah bangsa (bersama), dan membuat arah perjuangan tidak jelas, yang menjadi korban rakyat Papua, menghadapi tekanan fisik maupun non fisik dalam situasi yang tak menentu. "Karakteristik Perjuangan seperti itu harus dihindari dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat".
Pola karakteristik pigur kesukuan dalam masyarakat adat Papua sedang dibangun oleh Penguasa Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui praktek pemekaran daerah-daerah otonom baru di wilayah adat kesukuan penduduk asli Papua. Tujuan utamanya motivasi politik, yaitu mendorong karakteristik kesukuan di dalam daerah-daerah otonom dibawah kendali Jakarta untuk menghancurkan nasionalisme Papua yang telah terbangun.
Tinjauan Historis Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat
Dalam konteks pemahaman penulis, berdasarkan pengamatan terbatas pada perjuangan bangsa Papua Barat yang telah berlangsung sejak Indonesia menduduki wilayah geografi Papua Batar (West New Guinea) pada 1 Mei 1963 hingga saat ini, teramati bahwa, “Sejak awal, terlihat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat, telah terbangun dualisme ketokohan, yang menjadi pigur pejuang, membentuk karakteristik >Perjuangan Kelompok< yang berimbas memunculkan konflik intern, membawah arah perjuangan ke tujuan yang tidak jelas dan tidak mendapat dukungan politik masyarakat internasional".
Dari riset pustaka yang
berorientasi pada sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat dan pengamatan langsung terhadap perlawanan rakyat Papua Barat saat ini, penulis
menemukan fakta, bahwa sejak awal dalam perjuangan bangsa Papua Barat, telah terjadi
perpecahan dalam perlawanan politik terhadap pendudukan bangsa Indonesia di Wilayah Geografi Papua Barat. Perpecahan itu terorganisir kedalam dua kelompok (kubu)
pejuang, yaitu: “Kelompok Tokoh Nasionalis Papua, Markus Wonggor Kaisiepo dan
Nicolaas Youwe”.
Kelompok Tokoh Nasionalis Papua
Nicolaas Youwe mengawali perlawannya di Jayapura dibawah kendali Tokoh
Terkemuka Tabi asal daerah Nimboran (Genyem), “Aser Demotekay”, pada tahun 1963,
sejak Indonesia mengambil alih kekuasaan atas wilayah Papua Barat dari Belanda
melalui UNTEA.
Aser Demotekay mempersiapkan kader penggantinya Yacob Hendrik Prai dan Obeth Hembring keduanya yang saat itu mahasiswa Universitas Negeri Cenderawasih pertama di Jayapura, sebagai generasi tokoh Tabi berikutnya asal daerah Keerom dan Genyem. Obeth Hembring ditangkap oleh militer Indonesia pada saat mengkoordinir demonstrasi rakyat Papua di Jayapura pada tahun 1964 dan dihilangkan secara paksa, hingga saat ini tidak ditemukan jejaknya.
Bentuk
Perlawanan yang dibangun oleh kelompok Aser Demotekay, adalah gerakan bawah tanah “Kultus Kargo Melenisme”, yaitu:
Diplomasi Politik Melalui Etnik dan Budaya Melanesia untuk Menentukan Nasib
Sendiri Bangsa Papua Barat. Bentuk Gerakan Perlawanan Kemerdekaan Papua Barat Tanpa Kekerasan, membangun simpati masyarakat pasifik untuk mendukung kemerdekaan Papua Barat.
Kelompok Tokoh Nasionalis Papua
Markus Wonggor Kaisiepo menyusul gerakan perlawanannya di Manokwari, dibawah
kendali Tokoh Terkemuka Saireri asal Biak “Terianus Aronggear” pada tahun 1965.
Terianus Aronggear menghimpun tokoh-tokoh Saireri bekas tentara dan polisi Papua pada masa Belanda, dibawah pimpinan Ferry Awom melakun perlawanan bersenjata terhadap pendudukan militer Indonesia di Manokwari dan daerah Saireri lainnya sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan Indonesia diatas wilayah/ Papua Barat.
Sejak Awal Rakyat Papua Barat Sudah Tidak Percaya Terhadap Keterlibatan PBB Sebagai Penengah Penyelesaiaan Sengketa Wilayah Kekuasaan New Guinea Barat Antara Indonesia Dan Belanda.
Konspirasi politik internasional tingkat tinggi antara Indonesia, Amerika serikat (AS) dan sekutunta Inggris menekan Belanda menyerahkan kekuasaan kontrol atas wilayah Papua Barat (New Guinea Barat) kepada Indonesia melalui skenario politik internasional sebuah perjanjian yang disebut "New York Agreement, 15 Agustus 1962".
Konspirasi politik tingkat tinggi internasional itu telah teraca, diketahui oleh para tokoh nasionalis Papua Barat, yang memunculkan kontra politik di wilayah Papua Barat melalui gerakan perlawanan dibawah tanah (klandistin) Pada saat penyerahan kekuasaan kontrol wilayah New guinea Barat dai Blanda ke Indonesia melalui UNTEA pada 1 Mei 1963.
PEPERA 1969, terlihat jelas tabiat buruk penguasa Indonesia yang dipertontonkan kepada para tokoh pro kemerdekaan Papua Barat. kecurangan dalam Act of Free Choice menambah ketidak percayaan rakyat Papua Barat untuk hidup bersama dibawah kendali bangsa melayu Indonesia. Hal itu memotivasi spirit perlawanan bangsa Papua Barat mengambil kembali hak kemerdekaannya yang telah dirampas melalui konspirasi politik internasional tingkat tinggi, yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia, menekan Belanda memberikan kontrol kekuasaan wilayah papua Barat kepada Indonesia, melalui New York Agreement, 15 Aguetus 1962.
Setelah PEPERA tahun 1969, pada, 1 Juli 1971 terbentuklah Pemerintahan Sementara Revolusioner Papua Barat, adalah bentuk perlawanan di dalam negeri yang mempersatukan kubu perlawanan di dalam negeri, mempertemukan kubu Terianus Aronggear melalui tokoh kadernya Seth Jafeth Rumkorem dan Kubuh Aser Demotekay melalui tokoh kadernya Yacob Hendrik Prai.
Langkah selanjutnya, satu tahun kemudian (!972) atas dukungan otoritas PNG dibentuk pemerintahan sementara Sorong-Samaray di pengasingan. Tujuan pembentukan pemerintahan sementara Sorong -samaray adalah bentuk perjuangan di dunia internasional untuk mendapatkan dukungan politik negara-negara pendukung dan mencari bantuan senjata guna mendukung perlawanan didalam negeri yang dibawah kendali pemerintahan sementara revolusioner Papua Barat, dibawah tanggungjawab kedua tokoh OPM, Seth Jafeth Rumkorem dan Yakob Hendrik Prai.
tabiat buruk bangsa Indonesia melaluimengorbitkan kader perlawanan bersenta, Seth Jafeth Rumkorem tokoh berikutnya
asal Saireri (Biak).
Primordialisme Kesukuan Papua telah mengakar, Menjadi Tantangan Dalam Perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua Barat.
Pertanyaannya, Bagaimana
Mengolah Tantangan itu menjadi Modal Dasar Kekuatan Nasionalisme Papua Melawan Penindasan Diatas Negeri Papua Barat?
Menjadi catatan penting generasi penerus perjuangan kemerdekaan Papua Barat di Abad-21.
Pandangan Penulis tertuju pada kata kunci: Peran Ketokohan, Kepemimpinan Kolektif, memanage perjuangan dengan
baik.



















